Dari Kambing Ke Kambeng-Kambeng: Cara Leluhur Merawat Kebersamaan

  • 29 Desember 2023
  • 02:28 WITA
  • Admin_Bio
  • Berita

Berbeda dengan orang-orang barat yang cendrung bersikap individualis, nenek moyang kita  masyarakat Nusantara justru dikenal sebaliknya, lebih bersifat kolektif. Itulah sebabnya mereka suka ngumpul-ngumpul. Kebiasaan itu terwujud dalam berbagai instrumen sosial di masyarakat seperti budaya gotong royong dalam berbagai bidang, budaya musyawarah, saling memberi, dan tolong menolong.

Di Jawa misalnya, orang punya moto yang jika dibahasa-Indonesiakan berarti “makan tidak makan yang penting berkumpul” atau kalau dibahasakan dengan kalimat lain bisa juga berarti “biar pun tidak makan yang penting bersama". Ungkapan tersebut menjadi cerminan begitu pentingnya posisi acara ngumpul-ngumpul itu di mata masyarakat Jawa. 

Di belahan daerah lain di Nusantara, leluhur kita juga memandang hal yang sama, hanya saja ada yang mengganggap tidak sempurna acara ngumpul-ngumpul kalau di dalamnya tidak ada acara makan-makan. 

Diduga bermula dari sinilah acara tradisi kumpul-kumpul dan makan-makan menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Tidak sah dan afdol rasanya kalau sedang berkumpul tetapi tidak ada sajian makanan-minuman di dalamnya. Hal tersebut kemudian bertalian erat dengan semangat "makan bersama jauh lebih 'massifa' (enak) dibanding kalau makan sendiri". Apapun jenis makanannya kalau dimakan bersama terasa jauh lebih nikmat di banding jika di makan sendiri. 

Kebiasaan ini kemudian merambat ke berbagai tradisi kebudayaan maupun keagamaan. Dalam tradisi keagamaan misalnya, sekalipun itu dalam moment kedukaan tetap saja tradisi makan-makan tetap ada. Makanya, sekalipun, belakangan digaungkan kembali teks-teks keagamaan (hadis) dengan narasi penolakan dan kecaman atas tindakan acara makan-makan pada acara kedukaan seperti makan di rumah duka, acara 3 hari, 7 hari ataupun  40 hari ataupun haul serta merta tidaklah dapat mengeliminasi kebiasaan makan-makan tersebut. 

Itu pulalah sebabnya, mengapa pada tradisi lain, seperti baca doa, (doa selamatan, doa syukuran) selalu tersaji rupa-rupa panganan makanan, minuman atau kue-kue di depan para pembaca doa (Pegawai Syara', ustadz, kiyai), padahal berdoa dalam pandangan agama (Islam) tidaklah mensyaratkan hal tersebut, bahkan tidaklah memiliki pengaruh diterima atau tertolaknya doa-doa, itu karena diakhir dari rangkaian acara tersebut akan ditutup dengan acara "sakral" makan bersama. 

Ngumpul-ngumpul dan makan bersama sudah menjadi tradisi turun temurun masyarakat Nusantara yang hari ini dapat terwujud dalam berbagai rupa-rupa kegiatan dan kemasan, bahkan oleh masyarakat dunia. Muda mudi hari ini ketika memilih tempat tongkrongan, sudah pasti memilih tempat yang sepaket dengan ada tempat makan-makan di dalamnya.

Bermula dari tradisi ini pulalah, muncul ungkapan "tak ada kambing, kambeng-kambeng pun jadi". Ungkapan ini muncul juga sebagai representasi atas pentingnya posisi acara makan-makan bersama. Kata kambing pada ungkapan tersebut adalah simbolitas makanan "wah" dan mahal, sekaligus menjadi simbolitas makanan orang-orang berduit atau kelas menengah ke atas, sementara "kambeng-kambeng" menjadi simbolitas makanan yang murah meriah yang cocok untuk kalangan kelas bawah. 

Kambing dan kambeng-kambeng, meski penyebutannya memiliki kemiripan tetapi sejati dia hal yang amat berbeda. Kambing sebagaimana telah jamak diketahui adalah salah satu jenis hewan. Sementara, kambeng-kambeng (ada yang menyebutnya dengan vokal i, kambing-kambing) adalah sejenis kue. 

"Kambeng-kambeng" (sebutan untuk nama salah satu kue bagi orang Bugis-Makassar) ini ada dua macam, ada yang berbahan terigu dan ada yang berbahan utama pisang. Yang pertama,  yang berbahan terigu-bawang itu disebut kambeng-kambeng lasuna, sementara yang kedua, yang berbahan utama pisang yang dicampur dengan tepung beras disebut kambeng-kambeng pisang. Terlepas atas perbedaan kedua bahan dan rasanya. Keduanya menjadi simbol makanan yang sangat murah meriah, mudah, dan pengolahan serta penyajiannya nya terbilang cepat dan sangat cocok disajikan pada acara ngumpul-ngumpul yang sifatnya dadakan. 

Ungkapan "tak ada kambing, kambeng-kambeng pun jadi" adalah sebuah bentuk penegasan bahwa jika tak ada makanan "wah", makanan sederhana pun boleh. Itu jauh lebih baik daripada tidak ada sama sekali makanan. Hal ini pula menekankan posisi makanan tidak hanya sekedar alat pemenuhan kebutuhan biologis-konsumtif manusia. Tetapi lebih dari itu makanan bisa menjadi simbol identitas seseorang maupun suatu komunitas masyarakat tertentu.   

Tidak hanya itu, makanan sejak dari dulu sering juga dijadikan sebagai instrumen diplomasi oleh berbagai lapisan masyarakat, kelompok maupun individu. Itulah sebabnya makanan tidak hanya berbicara tentang wilayah domestik-privat, tetapi juga merambah ke ruang publik: sosial, politik dan kebudayaan. 

Itulah sebabnya dalam dunia politik dikenal istilah diplomasi kuliner (diplomacy culinary). Sam Chappel-Sokol (juru masak di Gedung Putih Amerika Serikat  mendefinisikan diplomasi kuliner), yaitu sebuah konsep dan praktek diplomasi yang menjadikan makanan dan masakan sebagai instrumen untuk meningkatkan interaksi dan kerja sama. 

Sam, pendiri situs culinarydiplomacy.com. ini menjelaskan bagaimana konsep diplomasi kuliner ini bekerja. Menurutnya, ketika orang duduk bersama di atas satu  meja, lalu saling berbagi makanan seraya melakukan percakapan yang baik, hal itu berfungsi untuk memperkuat ikatan dan mengurangi pertentangan satu dengan yang lain. 

Dalam implementasinya, konsep ini tidak sedikit dijadikan instrumen oleh para politisi dunia maupun politisi tanah air dalam upaya mendialogkan suatu masalah penting. Diplomacy kuliner ini tidak jarang persoalan yang rumit, penting dan genting bisa diputuskan dan terselesaikan dengan baik tanpa menimbulkan riak-riak. 

Hal ini sejalan dengan prinsip yang dipegang teguh orang Bugis Makassar, orang pantang berdebat apalagi berkelahi saat berada di meja makan. Begitupun pantang berbuat jahat dengan orang telah sering makan bersama dalam satu meja ataupun wadah bersama kita. 

Selain sebagai diplomasi kuliner, makanan juga sejatinya bisa diterapkan untuk diplomasi budaya. Sadar atau tidak, pada suatu makanan di dalamnya ada transfer pengetahuan yang bisa mewakili suatu kebudayaan suatu daerah ataupun bangsa. Menurut Sam makanan adalah bagian dari budaya suatu negara. 

Tapi jangan lupakan. Makanan sebagai alat diplomasi, baik politik maupun budaya sebagaimana dikemukakan oleh Sam, dalam implementasinya di tanah air, tidak sedikit juga ada yang menjadikan dan mengarahkan makanan ini masuk kepada wilayah negatif sebagai alat sogok-menyogok, sekalipun dampaknya tak separah sogok-menyogok yang lain. 

Semoga "kambing-kambing itu" tetap menjadi sarana dan alat untuk semakin merekatkan kebersamaan.

Adakah kambing. Ups. Maksudnya, adakah kambeng-kambeng?


Kontributor: DRH