Berdamai dengan Hujan lewat Protein-Packed Comfort Food

  • 06 Januari 2026
  • 04:41 WITA
  • Admin_Bio
  • Berita

Berdamai dengan Hujan lewat Protein-Packed Comfort Food

 

Hujan turun seperti catatan kaki dari sang Tuhan, pelan, berulang, dan tak pernah meminta untuk disimpulkan. Airnya membasahi atap, tanah, dan diam-diam juga kesadaran. Pada saat seperti ini, tubuh biologis mengetahui dengan jernih apa yang dibutuhkannya, bukan sekadar rasa kenyang, melainkan rasa dipulangkan. Maka hujan perlu dijawab dengan makanan hangat berprotein tinggi dan sarat makna, sebuah comfort food yang menenangkan tubuh sebelum pikiran sempat menyusun alasan, makanan yang tidak berteriak, hanya memeluk.

Protein, dalam bahasa sains, hanyalah rantai asam amino, bahan baku sel, penyusun enzim, hormon, dan jaringan. Namun hujan mengajarkan untuk tidak berhenti pada definisi. Protein, ketika hadir dalam mangkuk sup hangat, menjelma menjadi bahasa kasih antara dapur dan tubuh. Kaldu yang mengepul bukan semata membawa nitrogen dan peptida tapi juga mengirim pesan evolusioner yang purba dan menenangkan "bertahanlah, kamu aman, energi akan tersedia". Tubuh merespons lebih dulu, jauh sebelum pikiran sempat berargumen. Di sanalah biologi menyingkapkan wataknya, bukan dingin, melainkan jujur.

Di luar, hujan menurunkan intensitas cahaya, menekan ritme, memaksa dunia melambat. Di dalam, metabolisme ikut menyesuaikan diri. Tubuh meminta sesuatu yang stabil, bukan lonjakan singkat seperti gula sederhana, tetapi kesetiaan protein yang dilepas perlahan dan diserap dengan sabar. Tahu, tempe, telur, ikan, atau semangkuk sup sederhana bekerja senyap di balik layar untuk memperbaiki sel, menenangkan sistem saraf, sambil memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat. Ini bukan perkara diet, tapi tentang dialog halus antara fisiologi dan perasaan.

Barangkali comfort food tidak pernah benar-benar soal rasa, melainkan soal kehadiran. Ia hadir ketika hujan membuat langkah ingin menepi. Ia hadir saat tubuh lelah menjadi rasional sepanjang hari. Ia hadir sebagai rekonsiliasi kecil namun penting antara sains dan rasa, antara kepala dan perut, antara data dan doa yang tak pernah diucapkan. Dalam kehangatan makanan berprotein tinggi, tersimpan refleksi sederhana, bahwa merawat diri tidak selalu harus heroik, kadang cukup dengan duduk, mendengar hujan, dan mengizinkan tubuh bekerja sebagaimana  diciptakanNya.

Maka berdamailah dengan hujan. Biarkan ia turun, mengetuk jendela, sementara makanan hangat disiapkan di dapur. Di sanalah perdamaian terjadi, sebagai manusia yang berpikir dengan otak, tetapi hidup melalui sel. Wallahu a'lam bisshawab. [HF]