Food Coma Pasca Lebaran: Kenikmatan dari Piring ke Pelukan Kasur

  • 03 April 2025
  • 12:14 WITA
  • Admin_Bio
  • Berita

Food Coma Pasca Lebaran: Kenikmatan dari Piring ke Pelukan Kasur

Lebaran selalu lebih dari sekadar perayaan, pesta bagi lidah, di mana arooma rempah bercampur dengan kegembiraan silaturahmi, dan setiap rumah menjamu dengan sajian khas yang tak pernah gagal menggoda selera. Di meja makan, tersaji buras yang lembut didampingi jajabu’, bersanding pula ketupat dengan coto Makassar yang kaya rempah. Di sudut lain, konro berkuah pekat menanti untuk disantap, sementara palekko dengan pedasnya yang menggigit mengundang keberanian. Tak ketinggalan tumbu’ ketan yang gurih legit, serta tape manis yang sedikit asam, ditaburi kacang langkose’ menutup rangkaian kenikmatan yang nyaris sempuirna.  

Namun, setelah perut penuh dan gelak tawa mulai mereda, datanglah tamu tak diundang: rasa kantuk yang begitu berat. Mata mulai blur, tubuh terasa lemas, dan pikiran enggan diajak bekerja. Tetiba, kasur tampak lebih menggoda daripada percakapan di ruang tamu. Inilah yang dikenal sebagai food coma, fenomena biologis yang membuat seseorang merasa mengantuk dan lelah setelah menyantap makanan dalam jumlah besar.  

Di balik rasa nikmat setiap suapan, tubuh kita sebenarnya sedang bekerja keras. Karbohidrat dari buras, tumbu’ ketan, dan tape dengan cepat diubah menjadi glukosa, memicu lonjakan kadar gula darah. Sebagai respons, pankreas melepaskan insulin untuk menyeimbangkan gula dalam darah, namun di saat yang sama, insulin juga membantu triptofan—sebuah asam amino—masuk ke otak. Triptofan inilah yang menjadi bahan baku serotonin, zat yang memberikan rasa nyaman dan tenang. Dari serotonin, tubuh kemudian memproduksi melatonin, hormon yang bertanggung jawab atas kantuk. Tak heran, setelah menikmati hidangan Lebaran, tubuh seperti meredup perlahan, dan rasa kantuk pun datang tanpa permisi.  

Tak hanya itu, tubuh juga mengalihkan aliran darah ke saluran pencernaan untuk memproses makanan berat seperti konro dan coto. Akibatnya, suplai darah ke otak sedikit berkurang, menciptakan efek lelah dan menurunnya kewaspadaan. Belum lagi, makanan berlemak tinggi seperti palekko atau gulai kambing memicu pelepasan hormon cholecystokinin yang memperlambat pengosongan lambung dan memberikan efek relaksasi. Semua ini berpadu dalam sebuah ritme biologis yang puncaknya adalah satu keinginan sederhana: tidur.  

Di sudut meja, gelas berisi sirup DHT yang manis menggugah masih setengah penuh, sementara suara televisi yang tadi meriah kini terdengar seperti gumaman jauh. Seseorang telah menyerah dan tertidur di sofa, sementara yang lain berusaha menahan kantuk dengan menyesap teh panas. Ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan cara tubuh merespons jamuan besar yang baru saja dinikmati.  

Meskipun food coma adalah sesuatu yang wajar, ada cara untuk menghindari kantuk berlebihan. Mengatur porsi makan, mengurangi asupan karbohidrat sederhana, dan menyeimbangkannya dengan protein dapat membantu tubuh tetap bertenaga. Bergerak ringan setelah makan, alih-alih langsung merebahkan diri, juga bisa mengurangi efek kantuk yang datang menyerang.  

Namun, pada akhirnya, bukankah ada kehangatan tersendiri dalam rasa kantuk setelah makan? adalah bukti bahwa kita telah menikmati kebersamaan, bahwa perut yang penuh adalah bagian dari tradisi, dan bahwa setelah segala hiruk-pikuk Lebaran, tubuh pun meminta jeda sejenak. Dari piring yang kosong hingga kasur yang siap menyambut, food coma pasca-Lebaran mungkin bukan sekadar fenomena biologis, tetapi juga bagian kecil dari kenikmatan yang kita rayakan setiap tahun. Maka, jika setelah sepiring buras dan semangkuk coto tubuh terasa berat, jika setelah gelak tawa dan tegukan sirup mata mulai meredup, biarkan sejenak diri tenggelam dalam kehangatan yang Lebaran bawa. Karena di balik kantuk yang datang tanpa permisi, ada kenangan yang akan tersimpan lebih lama dari sekadar rasa kenyang.Selamat menikmati sisa-sisa kehangatan Lebaran. Selamat meluruhkan lelah dalam pelukan waktu. Dan semoga, setelah tubuh beristirahat, hati tetap penuh dengan rasa syukur dan diliputi keikhlasan untuk saling memaafkan. 🌿✨😇 [HF]