Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
[email protected] Portal Akademik Masuk
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Detail Berita
"Susu Sekolah" dan Setengah yang Hilang

"Susu Sekolah" dan Setengah yang Hilang

"Susu Sekolah" dan Setengah yang Hilang

Ada yang janggal ketika susu jadi cerita. Bukan karena anak-anak tak suka. Tapi karena di balik kotak kecil itu, ada rasa yang tidak ikut tercetak di kemasan, rasa dipaksa menerima.

Sebulan lebih saya diliputi tanya dalam pencarian. Dari lorong swalayan-swalayan besar di Makassar sampai rak-rak rapi di toserba Gowa, saya mencari satu liter varian susu favorit anak-anak. Kosong, seolah menghilang tanpa jejak, sementara merk yang sama dengan varian lain tetap berderet rapi di sana. Saat itu tak sedikitpun protes di benakku, saya hanya mencari karena kesukaan anak-anak. Karena bagi saya, memilih susu untuk anak adalah hak kecil yang masih bisa saya genggam di tengah banyak hal yang sudah tak bisa saya atur.

Lalu suatu hari susu itu kembali, berjejer rapi di rak toserba langgananku. Saya sangat lega. Saya hampir ingin memeluk kardusnya. Betapa hal kecil bisa membuat ibu-ibu seperti saya merasa menang.

Jumat kemudian datang membawa kisah lain, si bocah pulang membawa bingkisan MBG, untuk jatah 3 hari pula. Kencang ga' coy??.... Ada camilan kering yang renyahnya lebih nyaring daripada gizinya plus aroma tengik yang lemah, dan satu kotak mini susu yang wajahnya terasa akrab. Saya sempat tersenyum. “Oh, mungkin ini versi lebih baik,” pikirku. Ternyata tidak sesederhana itu.

Labelnya berubah jadi “susu sekolah”. Setelah saya baca pelan-pelan, komposisinya pun berubah. Lima puluh persen rekombinan. Diproduksi pabrik yang sama, tapi rasanya seperti cerita yang berbeda. Yang biasa kami konsumsi 100% susu sapi. Yang ini? Campuran, separuhnya ga tuch....

Saya tahu, secara regulasi mungkin sah. Saya tahu, mungkin secara hitung-hitungan anggaran lebih efisien. Tapi hati orang tua tidak bekerja dengan rumus efisiensi. Hati bekerja dengan rasa percaya.

Mengapa terasa seperti ada sesuatu yang dipaksakan? Bahkan di bulan puasa, ketika ritme mestinya melambat, program tetap berjalan seperti mesin yang tak boleh mati. Seolah bisnis tak boleh berhenti, karena berhenti berarti rugi. Seolah jeda adalah ancaman.

Padahal, jeda kadang justru bentuk kepedulian.

Anak-anak tidak paham istilah rekombinan. Mereka hanya tahu susu itu anak atau tidak. Tapi kita, orang tuanya, membaca lebih dari sekadar rasa. Kita membaca arah kebijakan. Kita membaca prioritas. Kita membaca keberpihakan.

Dan yang membuat sedih bukan sekadar kandungan 50% itu. Yang membuat sesak adalah perasaan bahwa kualitas bisa dinegosiasikan, selama program tetap terlihat berjalan. Bahwa yang penting distribusi lancar, meski isi diubah.

Susu itu akhirnya bukan lagi soal gizi. Ia berubah jadi simbol: apakah negara sungguh-sungguh memberi yang terbaik, atau sekadar memberi yang cukup agar statistik tetap baik?

Saya tidak anti program. Saya tidak anti pemerintah. Saya hanya ibu yang ingin ketika anak saya minum, saya tenang. Tanpa perlu menerjemahkan label. Tanpa perlu curiga pada kebijakan.

Karena masa depan bangsa ini, katanya, ada di tangan anak-anak. Kalau begitu, bukankah sudah sepantasnya setiap tetes yang masuk ke tubuh mereka adalah tetes terbaik yang bisa kita beri, bukannya tetes kompromi? Masa depan memang tidak runtuh dalam satu hari, tapi bisa retak dari kompromi-kompromi kecil yang dibiarkan menjadi biasa.

Namun saya masih percaya, suara-suara kecil dari rumah-rumah seperti saya bukan sekadar keluhan. Ia adalah pengingat. Bahwa kebijakan akan selalu punya ruang untuk diperbaiki, selama kita berani peduli dan mereka bersedia mendengar.

Sebab pada akhirnya, yang kita perjuangkan bukan sekadar susu. Kita sedang menjaga agar standar tentang “yang terbaik untuk anak” tidak pernah diturunkan, apa pun alasannya.[HF]