Samata – Sama halnya dengan makhluk hidup yang harus terus beradaptasi untuk bertahan, sebuah kurikulum akademik pun butuh "evolusi". Menyadari hal tersebut, Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Alauddin Makassar menggelar Focus Group Discussion (FGD) Reviu Kurikulum Biologi pada hari ini, Kamis, 19 Februari 2026 bertepatan dengan hari pertama puasa 1 Ramadan 1447 Hijriyah. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 10.00 WITA hingga waktu Dhuhur ini diselenggarakan secara hybrid, mempertemukan peserta secara luring di Ruang Rapat Jurusan Biologi sekaligus terhubung secara daring melalui platform Zoom.
Sebagai "nukleus" atau inti dari pertemuan ini, forum bertujuan untuk mengevaluasi secara mendalam Kurikulum Outcome-Based Education (OBE) 2021, khususnya yang berkaitan dengan profil lulusan dan bahan kajian. Lebih dari itu, FGD ini dirancang sebagai wadah untuk menyerap masukan dari para alumni dan stakeholder. Tujuannya jelas: memetakan hard skill dan soft skill yang paling relevan dengan dinamika dunia kerja saat ini, sekaligus merumuskan saran mata kuliah penguatan guna meracik Kurikulum OBE 2026 yang lebih tangguh.
Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran tenaga pendidik dan kependidikan Prodi Biologi FST UIN Alauddin Makassar, serta sebuah "ekosistem" kemitraan yang sangat beragam. Hadir memberikan wawasan praktis, perwakilan dari BPOM, BRIN, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Luwu Timur, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Sinjai, hingga Dinas Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah. Tak ketinggalan, suara dari lapangan juga diwakili oleh Kepala Balai KSDA Provinsi Sulawesi Selatan, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (Babul), Kepala Madrasah MTs.N 2 Kab. Sidrap, dan Kepala Sekolah Alam Insan Kamil.
Dari sektor industri dan praktisi, hadir Direktur PT Yakult Indonesia Persada, Direktur PT Enviro Celebes Konsultan, dan Direktur Marasa Farm. Melengkapi perspektif tersebut, turut hadir perwakilan Ikatan Alumni Biologi (Ikabio FST UIN Alauddin Makassar) lintas angkatan dari tahun 2009 hingga 2025.
Simbiosis Mutualisme: Harapan Stakeholder dan Industri
Dalam diskusi yang mengalir hangat, tercipta wacana simbiosis mutualisme antara dunia kampus dan instansi luar.
- Para stakeholder menyoroti perlunya penguatan kolaborasi dalam riset dan praktik lapang.
- Kolaborasi ini ditekankan secara khusus dengan Taman Nasional Babul dan KSDA sebagai upaya membangun sinergitas antara visi keilmuan Biologi dan pelestarian di balai tersebut.
- Di samping itu, muncul usulan menarik agar mahasiswa dibekali dengan kompetensi pendukung yang spesifik, seperti kemampuan menyelam (diving) dan penguasaan mata kuliah Sistem Informasi Geografis (SIG).
- Para mitra juga menekankan pentingnya penguatan kompetensi pedagogik yang selaras dengan pengetahuan lingkungan atau ekoteologi.
- Dari kacamata industri pertanian, perkebunan, dan peternakan, pemahaman mendalam pada mata kuliah Fisiologi Tumbuhan, Mikrobiologi, dan Perilaku Hewan dinilai krusial untuk mendapat penguatan.
Adaptasi di Dunia Kerja: Catatan Penting dari Alumni
Sementara itu, para alumni yang telah lebih dulu "menetas" dan membangun jejaring di dunia profesional memberikan catatan yang tak kalah penting bagi adik-adik tingkatnya.
- Mereka mengusulkan adanya pembekalan karier dan sharing session dari alumni guna menjembatani sinergitas antara teori dan praktik di dunia kerja sesungguhnya.
- Merespons era digital yang berkembang pesat, alumni sangat menyarankan perbanyakan praktik yang bersinggungan langsung dengan pengolahan data, misalnya seperti penggunaan software GIS dan aplikasi pemrograman R.
- Penguatan metodologi penelitian serta optimalisasi pemanfaatan peralatan laboratorium yang "canggih" juga menjadi sorotan tajam.
- Terakhir, menilik aspek kecerdasan emosional, alumni mengingatkan bahwa pemahaman tentang pentingnya kerja sama dalam tim adalah sebuah keniscayaan untuk bisa survive di ekosistem tempat kerja mana pun.
Melalui FGD komprehensif ini, Prodi Biologi FST UIN Alauddin Makassar berharap draf kurikulum terbarunya nanti bukan sekadar tumpukan dokumen administratif, melainkan cetak biru DNA lulusan yang adaptif, kompeten, dan siap memecahkan masalah-masalah biosains di masa depan. (SHA)