Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
[email protected] Portal Akademik Masuk
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Detail Berita
Start Beda Sehari, Hati Jangan Ikut Berjarak

Start Beda Sehari, Hati Jangan Ikut Berjarak

Start Beda Sehari, Hati Jangan Ikut Berjarak

Perbedaan awal puasa tak jarang datang seperti bisik-bisik langit yang nadanya tak sepenuhnya sama. Di satu sudut, sebagian orang telah menyiapkan sahur pertama dengan degup harap yang khusyuk. Di sudut lain, sebagian yang lain masih menunggu kabar hilal dengan mata menengadah ke ufuk barat. Langitnya sama, bulannya sama, tetapi tanggalnya bisa berbeda. Apakah ini soal benar dan salah? Ataukah ini sekadar perbedaan cara kita membaca tanda-tanda semesta?.

Sebagian umat mengikuti keputusan pemerintah melalui sidang isbat yang digelar oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Mereka menanti hasil rukyat dan hisab sebagai bentuk kehati-hatian kolektif. Sementara itu, sebagian yang lain berpegang pada perhitungan hisab wujudul hilal sebagaimana ditetapkan oleh Muhammadiyah. Mereka mempercayai kalkulasi astronomi sebagai kepastian yang dapat diprediksi jauh hari. Dua jalan, dua metode, satu tujuan, yaitu menyambut Ramadhan dengan keyakinan yang utuh.

Secara astronomis, bulan tidak pernah tergesa-gesa. Ia bergerak setia pada hukum gravitasi yang tidak berubah sejak miliaran tahun silam. Hilal muncul setelah ijtimak. Tipis, rapuh, kadang nyaris tak kasatmata. Di situ sains bekerja dengan sabar. Perhitungan elongasi, tinggi bulan, dan umur bulan menjadi bahasa matematika untuk menerjemahkan cahaya yang samar itu. Namun, pengamatan langsung tetap menyimpan romantikanya sendiri, ada yang menunggu di tepi pantai, ada yang berdiri di atas bukit, ada yang menatap melalui teleskop di puncak gedung, semua berharap menangkap lengkung sabit pertama. Sains dan pengalaman berdiri berdampingan, bukan untuk saling meniadakan, melainkan untuk saling meneguhkan.

Bukankah ini indah? Perbedaan awal puasa tidak seharusnya menjadi bara yang menyala dan membara, melainkan jendela yang membuka pandangan. Menghadirkan dialog antara astronomi dan tafsir, antara angka dan iman, antara observatorium dan sajadah. Dalam setiap selisih satu hari, tersimpan pelajaran tentang keluasan cara manusia memahami langit. yang penting ga langsung lebaran yah 😂😂

Maka ketika Kementerian Agama Republik Indonesia menungumumkan bahwa 1 Ramadan jatuh pada 19 Februari sebagaimana diputuskan melalui sidang isbat, sementara pada 18 Februari sebagian umat telah lebih dahulu memulai puasa mengikuti ketetapan Muhammadiyah, yang lebih penting bukanlah siapa yang sehari lebih awal atau lebih akhir. Yang lebih penting adalah bagaimana kita memulai dan menjalani dengan hati yang lapang menerima perbedaan, dengan ilmu yang terang memahami dasarnya, dan dengan kesadaran bahwa bahkan bulan sabit pun memerlukan sudut pandang untuk dapat terlihat. Wallahu a‘lam bisshawab. [HF]