Outing Class Etnobotani: Eksplorasi Tumbuhan Potensial Tana Toraja

  • 11 Januari 2020
  • 12:00 WITA
  • SH_Amrullah
  • Berita

Berbicara mengenai Tana Toraja, pasti mengarah pada salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang memiliki topografi berbukit, tersohor dengan keindahan alam dan budayanya. Suku Toraja memang senantiasa menjaga budaya warisan leluhur berusia ratusan tahun yang berakar dari budaya Austronesia. Tak jarang, kebudayaan-kebudayaan tersebut menggunakan tumbuhan sebagai bahan/medianya. Hal ini mengundang minat Rusmadi Rukmana, M.Pd., selaku dosen pengampu mata kuliah Etnobotani untuk membawa mahasiswanya dalam rangka Outing Class menuju Negeri di Atas Awan tersebut.

Menurut Rusmadi, kelas rekreasi ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat dalam pelaksanaan upacara adat di Kabupaten Toraja. Upacara adat tersebut antara lain pernikahan, kelahiran, mendirikan bangunan, bercocok tanam, ziarah kubur, kematian, dan nazar yang konon bertujuan untuk mencapai ketenteraman dan keharmonisan dalam kehidupan. Tumbuhan yang digunakan dalam upacara-upacara tersebut bersifat sakral. Contohnya tumbuhan Bambu (Bambusa vulgaris) dimanfaatkan dalam Upacara Rambu Solo’.

Kegiatan berlangsung di tiga lokasi, berlangsung dari Sabtu hingga Ahad, 11 s.d 12 Januari 2020 lalu. Tiga lokasi yang dimaksud antara lain: To’tombi-Lolai, Kete’ Kesu, dan Buntu Burake. Sebanyak 23 orang dalam rombongan, terdiri dari 18 orang peserta, empat orang pendamping dari IKABIO UIN-AM, serta dosen penanggung jawab, mengeksplorasi tumbuhan-tumbuhan potensial dari ketiga lokasi tersebut di atas. “Manfaat yang diharapkan dari eksplorasi ini adalah peluang pembudidayaan, pelestarian dan mempermudah masyarakat mendapatkan tumbuhan-tumbuhan potensial untuk pelaksanaan upacara-upacara kebudayaannya di kemudian hari”, tambah Rusmadi.

Metode pengumpulan data yang digunakan oleh mahasiwa dalam kegiatan outing class ini adalah metode wawancara langsung dengan cara blusukan ke tiga lokasi yang ditentukan. Mahasiswa menanyakan beberapa pertanyaan kepada warga yang ditemui, misalnya: “Di daerah ini upacara adat apa saja yang sering dilakukan?”, “Kapan tanggal pelaksanaannya dan perlengkapan seperti apa yang digunakan?”, “Adakah dari perlengkapan itu yang menggunakan tumbuhan sebagai bahan/medianya?”.

Kegiatan berlangsung penuh keseruan mulai dari perjalanan ke lokasi-lokasi sampai dengan pengalaman baru berfoto dengan latar keindahan alam dan budaya Toraja. Andi Besse Sri Putri, selaku salah satu peserta, menyampaikan kesannya terhadap kegiatan ini, “Kegiatan ini sangat menarik dan dapat menambah wawasan, baik berupa ilmu maupun pengalaman kepada semua rekan-rekan mahasiswa yang mengambil mata kuliah Etnobotani”. Satu yang dianggap kurang oleh personel 1n7erneuron ini, adalah tidak adanya rundown acara. “Agar kegiatan ini berjalan lebih lancar dan sesuai dengan jadwal yang ditentukan sebelumnya, sebaiknya panitia membuat rundown acara”, tambahnya menutupkan. (ABeSP/SHA)