Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
[email protected] Portal Akademik Masuk
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Detail Berita
Metamorfosis Sempurna: Ayiska Pramulia Jadi Sarjana Pertama di Angkatannya dengan Predikat Cumlaude

Metamorfosis Sempurna: Ayiska Pramulia Jadi Sarjana Pertama di Angkatannya dengan Predikat Cumlaude

Dalam sebuah "ekosistem" perkuliahan, tentu dibutuhkan kemampuan adaptasi yang luar biasa untuk bisa unggul. Hal inilah yang dibuktikan oleh Ayiska Pramulia, S.Si., Alumni Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makassar. Gadis kelahiran Baubau, 20 September 2004 tersebut sukses melakukan "lompatan evolusi" tercepat dengan menjadi mahasiswa pertama di angkatannya (IN2ER2I) yang berhasil menyandang gelar Sarjana Sains (S.Si.).

Gelar tersebut tidak hanya diraih dalam waktu singkat, tetapi juga dengan hasil maksimal: predikat Cumlaude!

Sempat Mengalami "Fase Stres" Akademik

Seperti halnya sebuah organisme yang harus melewati berbagai seleksi alam, perjalanan akademik Ayiska pun tidak selalu berjalan mulus. Sebagai anak "semata wayang" yang menjadi harapan satu-satunya, ia mengaku sempat kaget dengan beratnya beban laporan praktikum di awal-awal semester. Akibatnya, pada semester dua, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)-nya sempat mengalami penurunan karena manajemen waktu yang belum stabil.

Namun, titik balik keberhasilan gadis yang merantau dari Lingkungan Bahali, Pasarwajo, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara ini, justru berakar dari nasihat sang Dosen Penasehat Akademik, Syarif Hidayat Amrullah, S.Pd., M.Sc.. Beliau mengingatkan bahwa jumlah SKS yang diambil mahasiswa adalah cerminan dari jumlah waktu belajar yang harus dipertanggungjawabkan.

"Pesan tersebut menjadi titik balik bagi saya untuk bangkit. Saya mulai memperbaiki cara belajar dengan lebih disiplin serta menyusun daftar kegiatan harian yang dilengkapi dengan target," ungkap Ayiska.

Mengurai "DNA" Keberhasilan Ayiska

Banyak mahasiswa yang penasaran, apa sebenarnya kunci sukses dari sarjana perdana ini? Ayiska membagikan beberapa resep "metabolisme" belajarnya yang sangat disiplin:

  • Manajemen Waktu yang Ketat: Ia rela mengorbankan waktu bersenang-senang, nongkrong, dan bermain media sosial demi memprioritaskan tugas-tugas akademik.
  • Fokus Penuh di Kelas: Saat dosen menjelaskan, Ayiska menyimak dengan serius. Hal ini membuatnya tidak perlu belajar terlalu keras saat ujian karena materi sudah "tercerna" dengan baik sejak awal.
  • Eksplorasi Mandiri: Jika ada materi yang sulit dipahami, ia langsung mencari referensi tambahan berupa buku, jurnal ilmiah, hingga video di YouTube.
  • Anti Menunda Pekerjaan: Setiap tugas sebisa mungkin langsung diselesaikan lebih awal agar tidak terjadi penumpukan beban tugas di akhir.

Dukungan Keluarga sebagai "Energi" Utama

Di balik kegigihannya yang luar biasa, Ayiska mengakui bahwa dorongan terbesarnya adalah kedua orang tuanya, Bapak R. Suparno dan Ibu Sitti Muliati Hafid. Ia ingin membanggakan mereka dan membalas segala doa serta pengorbanan yang telah diberikan selama ia menempuh pendidikan. Selain itu, ini adalah pembuktian bagi dirinya sendiri bahwa ia mampu menyelesaikan studi dengan hasil terbaik lalu kemudian melanjutkan ke jenjang magister di masa depan.

Sebagai penutup bagi rekan-rekan mahasiswa Biologi dan UINAM secara umum, Ayiska berpesan agar tetap konsisten dan menjaga kesehatan fisik maupun mental.

"Belajarlah sejak awal semester, bukan hanya ketika mendekati ujian," tutupnya mengingatkan.

Kisah Ayiska membuktikan bahwa adaptasi dengan manajemen waktu yang baik, menjadikannya dapat bertahan menghadapi rintangan perubahan atmosfer akademis dari SMA ke Perguruan Tinggi, seberat apa pun. Seperti kutipan populer salah satu Biolog Termasyhur yang mengatakan,

"Bukan spesies yang paling kuat yang mampu bertahan hidup, bukan juga yang paling cerdas. Spesies yang mampu bertahan adalah yang paling adaptif terhadap perubahan."— Charles Darwin

(SHA)

Kontributor: HKB (BioSense_HMJ BioFST)